Home / Kabar Desa / Komunitas Pemuda Mabok : Berkreasi Menggugah Inspirasi Ekonomi Kreatif

Komunitas Pemuda Mabok : Berkreasi Menggugah Inspirasi Ekonomi Kreatif

MABOKCERIA-002
Malasari-malasari.desa.id-Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif mendefinisikan ekonomi kreatif sebagai kegiatan ekonomi berdasarkan pada kreativitas, keterampilan, dan bakat individu untuk menciptakan daya kreasi dan daya cipta individu yang bernilai ekonomis dan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat. Konsep ekonomi kreatif adalah sebuah konsep di era ekonomi baru yang penopang utamanya adalah informasi dan kreativititas dimana ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan faktor produksi utama dalam kegiatan ekonomi (Faisal Afiff, 2012). Kreativitas adalah proses berfikir dan menggugah inspirasi dengan cara yang berbeda dari biasanya, dimana seseorang tertantang untuk dapat melahirkan suatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya (Faisal Afiff, 2012). Dalam rangka mengembangkan ekonomi kreatif lewat kerajinan, sejumlah pemuda Desa Malasar berhimpun diri dalam suatu komunitas bernama Malasari Boga Kreasi (Mabok).
MABOKCERIA-001
Kreativitas pemuda desa Malasari kembali ditunjukkan dengan sejumlah karya seni replika dari bahan dasar bambu. Bertepatan dengan hari pahlawan, Selasa (10/11/15), sejumlah pemuda desa Malasari yang tergabung dalam komunitas Mabok (Malasari Boga Kreasi) memanfaatkan hari bersejarah tersebut untuk membuat dan menyelesaikan beberapa karya seni replika. Semangat kepahlawan mereka transformasikan menjadi energi positif penyemangat diri untu terus berkarya lewat seni replika. Melalui Malasari Boga Kreasi, Hamdan Yuwafi, Saeful Majlis, Lucky Kurniawan, Ames, Firman, Iik, Atri, Budi, Buchori, Ucok, dan yang lainnya berserikat menghimpun semangat berkarya untuk menunjukkan bahwa kawula pemuda bisa berkarya. Jika diamati dari aktivitas mereka, kemampuan kreatif dan inovatif secara riil tercermin dalam kemampuan dan kemauan untuk memulai berbisnis (start-up), kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang baru (creative), kemauan dan kemampuan untuk mencari peluang (opportunities), kemampuan dan keberanian untuk menanggung risiko (risk bearing) dan kemampuan untuk mengembangkan ide dan meramu sumber daya yang tersedia.
MABOKCERIA-003
“Kegiatan ini kami lakukan untuk sedikit menunjukkan bahwa pemuda bisa berkreasi, tidak hanya begadang, dan tentunya mengurangi pengangguran,” kata Iik alias Jawa. “Membuat karya seperti ini perlu ketekunan dan kesabaran. Sebetulnya, pengerjaannya bisa lebih cepat jika kami dilengkapi peralatan yang memadai,” ucap Firman (V-Man) menambahkan. Terkait dengan pemberdayaan komunitas kreatif, jejaring kerja sama antar unsur-unsur komunitas kreatif, Lucky Kurniawan menyatakan “Selain menggali potensi yang ada, kami akan melakukan study banding dan belajar ke beberapa komunitas kreatif. Tentunya harus mengutamakan hasil, sehingga bisa segera dipraktekkan dan konsultasi dengan narasumber mudah dilakukan.”
Tiap anggota Mabok (Malasari Boga Kreasi) diharuskan membuat minimal satu produk kreatif sesuai ide, inspirasi, dan keterampilan yang dimiliki masing-masing. Pengerjaannya bisa dilakukan sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Waktu proses pengerjaan satu produk replika bisa menghabiskan waktu satu sampai dua hari. Selain karena kesibukan masing-masing, fasilitas dan peralatan yang kurang memadai juga menjadi berpengaruh terhadap penyelesaian suatu produk replika. Sampai saat ini sudah terselesaikan sejumlah replika berbahan dasar bambu, seperti miniatur leuit (tempat penyimpan padi), miniatur lantayan (tempat menjemur padi lokal/pare gede), miniatur saung, miniatur kapal dan lain-lain. Selain replika, mereka tela membuat beberapa alat musik tradisional dari bambu, seperti celempung, dan angklung. Sementara ini kontrol terhadap kualitas produk dilakukan bersama-sama. “Di komunitas Mabok ini, karya individu maupun kelompok dikoreksi sama-sama sehingga masing-masing bisa berbagi gagasan guna perbaikan dan pengembangan kreasi yang dihasilkan,” ujar Saeful menjelaskan. “Selain masalah fasilitas, masalah pengemasan produk dan pemasarannya kami masih bingung,” imbuh Saeful.
MABOKCERIA-004
Ia dan rekan-rekannya berharap para pemimpin lokal memahami pentingnya kreativitas dalam komunitas dan ekonomi serta membuat seni dan budaya sebagai prioritas pengembangan sehingga bisa memperluas peluang dan ruang untuk interaksi kreatif. Mereka juga bercita-cita menggugah kesadaran penduduk agar mencintai dan mengakui bahwa kreativitas dapat membangun komunitas dan menyediakan jaminan pekerjaan dalam ekonomi kreatif. Para pemangku kepentingan, dalam hal ini Pemda dan pemerintahan desa diharapkan membuka ruang kreatif dan produk kreatif, karena dengan dibukanya ruang kreatif dan lingkungan yang memadai dapat mendorong perkembangan dan kehadiran orang kreatif serta munculnya gagasan-gagasan baru dalam mengembangkan ekonomi kreatif.

About desa malasari

Check Also

Akibat Bencana Tanah Amblas, Warga Kp. Sikantor Mengungsi

[Malasari-malasari.desa.id] Tingginya curah hujan yang turun terus menerus mengakibatkan timbulnya bencana di beberapa wilayah di …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *