Home / Berita / Diskusi Pengembangan Ekowista Desa Malasari Bersama Mahasiswa UNJ

Diskusi Pengembangan Ekowista Desa Malasari Bersama Mahasiswa UNJ

????Malasari-malasari.desa.id-Keberadaan komunitas (enclave) dalam suatu kawasan Taman Nasional (TN) seringkali menjadi dilema. Satu sisi pengelola berusaha mempertahankan keutuhan ekosistem kawasan tapi di sisi lain masyarakat juga memerlukan sumberdaya kawasan untuk beragam kebutuhan. Salah satu enclave di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) adalah Desa Malasari. Alternatif solusi yang bisa dilakukan adalah pengembangan wisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism/CBT). Geliat kegiatan ekowisata di Desa Malasari telah dimulai kurang lebih 15 tahun lalu melalui inisiatif dan prakarsa masyarakat lokal di RT 03 RW 09 Kp. Citalahab Central yang diwadahi KSM Warga Saluyu pimpinan Bapak Suryana. Secara swadaya masyarakat Kp. Citalahab Sentral menyelenggarakan jasa wisata alam dan homestay.
Pengembangan wisata berbasis masyarakat di Desa Malasari merupakan hal menarik untuk diteliti. Hal tersebut memotivasi para mahasiswa Program Studi Usaha Jasa Pariwisata Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (UNJ) untuk melakukan penelitian mengenai pengembangan ekowisata di Desa Malasari. Setelah mendapatkan izin melakukan kegiatan penelitian dari Pemdes Malasari dan pihak terkait, mereka melakukan pengumpulan data lewat observasi langsung dan wawancara dengan pihak-pihak terkait. Guna melengkapi data, Kamis (17/09/2015), bertempat di Kantor Desa Malasari, mereka melakukan wawancara dengan pihak terkait. Dari pemerintah desa diwakili oleh Sekretaris Desa Malasari, Sukandar, dan Ketua BPD, Rohmat Hidayat. Dari pihak pengelola wisata diwakili Usman Usmana, Direktur CV. Pesona Malasari.
????“Kita mencoba mendisain sebuah produk wisata, bukan hanya sebatas melihat hutan dsb, tapi kita membuat disain sebuah produk wisata untuk segmen pelajar. Selain mendisain, merancang, kita ujicobakan ke mereka, tanggapan mereka seperi apa, masyarakat seperti apa. Nah ini kan akan menjadi sebuah rekomendasi. Untuk kedepan, bahwa disain produk yang bisa dikembangkan untuk menangkap pasar ini adalah seperti ini. Nanti untuk pasar yang beda lagi, kita akan coba men-set ulang lagi. Jadi setiap segmen akan berbeda,” kata salah seorang dosen pembimbing dari UNJ di awal wawancara. “Kita akan membawa serta 172 siswa kelas XI dan 12 guru SMA Fons Vitae 1 Jakarta dalam kegiatan field study. Kegiatan akan berlangsung sekitar 3 hari yang akan dipusatkan di Citalahab Sentral;” kata Jenal Abidin, Dosen Prodi UJP FIS UNJ.
Ada beberapa hal penting yang ditanyakan oleh para mahasiswa UNJ antara lain : jenis usaha jasa wisata yang dikelola, kesiapan akomodasi dan transportasi, ketersedian infrastruktur yang dibutuhkan, promosi dan informasi, kerjasama antar pihak dalam penyelenggaraan wisata, kesiapan secara kelembagaan, dan lain-lain. Secara kelembagaan, Desa Wisata Malasari (DWM) merupakan bagian dari BUMDes dan sudah kepengurusan sudah diperkuat dengan penerbitan SK Kepala Desa. Program pengembangan wisata sudah terdokumentasi dalam dokumen RPJMDes RKPDes RKKD. Dukungan dari pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata cukup luar biasa, terbukti dari usaha promosi berupa pembuatan film promosi Desa Wisata Malasari, pameran dan penayangan film promosi di beberapa tempat strategis. Namun, keberhasilan promosi yang luar biasa yang telah dilakukan bukanlah ujung sebuah keberhasilan.
?????????????Meskipun masih dalam tahap ujicoba, penyelenggaraan usaha wisata lewat ticketing ternyata membuahkan hasil yang cukup lumayan. Terbukti dalam waktu 10 hari masa liburan hari raya Idul Fitri menghasilkan 20 juta rupiah. Label desa wisata secara legalitas dari pemda belum ada, baik dalam bentuk penerbitan Perbup maupun Perda, baru sebatas pengajuan. Terkait sistem kerjasama dengan pihak taman nasional telah dilakukan melalui beragam upaya diantaranya melalui disain tapak sebagai acuan untuk mengembangkan wisata di objek wisata yang berada di dalam kawasan. Selain atraksi wisata alam, atraksi wisata budaya yang ada di Desa Malasari juga cukup menjanjikan antara lain seni beladiri pencak silat, wayang golek, dogdog, reog angklung, dan tutunggulan, dan lain-lain. Ditanya soal peran pemerintah daerah Sekdes Malasari mengatakan : “Pemerintah jangan hanya membantu desa-desa wisata yang sudah berjalan. Justru kami yang baru memulai yang harus mendapat prioritas”. Selesai wawancara Sekdes mengharapkan agar hasil penelitian nantinya bisa diberikan kepada Pemdes Malasari sebagai salah satu referensi dalam pengembangan ekowisata di Desa Malasari.

About desa malasari

Check Also

musrenbangdesmal-002

Pemdes Malasari Gelar Musrenbang untuk Tahun Anggaran 2017

[Malasari-malasari.desa.id] Sesuai amanat Undang-undang No.6 Tahun 2014 tentang Desa serta peraturan dan regulasi dibawahnya, Pemerintah …

3 comments

  1. Kadang desa lupa, kalau dirinya itu cantik, unik dan seksi. Desa itu, cantik luar dalam tanpa polesan. Kearifan lokal menjadi pemebeda desa dengan perkotaan. Lanjuut bro, ini potensi yang tak bakal ditemui di perkotaan

  2. Semoga menyejahterakan masyarakat dan meningkatkan penghidupan masyarakatnya

  3. Fajareridianto

    Semoga menjadi alternatif wisata sekaligus tambah PAD di desa… salut utk solusinya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *