Home / Berita / Menyelisik Rumah Bersejarah Desa Malasari Bersama Lurah Sepuh

Menyelisik Rumah Bersejarah Desa Malasari Bersama Lurah Sepuh

telisikrumahsejarah_02
H. A. Sastra Wijaya (Lurah Sepuh) Saat Wawancara di Kantor Desa Malasari (01/06/2015)

Malasari-malasari.desa.id – Salah seorang Penyuluh Budaya dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Bogor, Ninik S. (31) bertamu ke kantor Desa Malasari, Senin (01/06/2015) sekitar pukul 10 WIB. Ia diterima oleh Kaur Pemerintahan Desa Malasari, Kono Suhendar (40). Maksud kedatangannya adalah untuk melakukan pendataan guna melengkapi informasi mengenai salah satu aset budaya dan sejarah Kab. Bogor, yakni rumah bersejarah di desa Malasari.
“Sekarang rumah sejarah desa Malasari sudah direnovasi, tetapi tidak merubah struktur aslinya. Rumah tersebut sudah menjadi aset pemerintah daerah,” kata Kono saat ditanya mengenai rumah bersejarah tersebut. Selain memberikan data yang diperlukan, ia merekomendasikan kepada staf dinas tersebut untuk melakukan wawancara langsung dengan saksi sejarah, H. Ahmad Sastra Wijaya (93) yang akrab disapa Lurah Sepuh. Beliau telah memimpin Desa Malasari selama 29 tahun (3 periode dan satu kali menjabat).

rumah sejarah desa malasari
Ninik S. (Penyuluh Budaya) dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Bogor Bersama Lurah Sepuh di Rumah Bersejarah

Menurut Lurah Sepuh, pada zaman penjajahan Belanda, Mandalasari (sekarang Malasari) masih berupa kemandoran. Kemudian berubah menjadi desa pada masa kepemimpinan Bapak Ining yang memerintah selama 24 tahun (1942-1966). Kala itu politik nasional masih bergejolak, dimana pihak kolonial Belanda masih belum mengakui kemerdekaan Republik Indonesia, maka melalui tentara sekutunya Belanda melakukan Agresi Militer II dan berhasil menguasai wilayah perkotaan termasuk wilayah kabupaten Bogor. Oleh karenanya, Bupati Bogor ketika itu, H.R. Ipik Gandamana Sumawinata, mengungsi ke Desa Malasari, dan memimpin pemerintahan dari tempat pengungsiannya tersebut selama kurang lebih 2 tahun (1947-1949). Setelah selesai perang agresi militer II, Bupati kembali ke pusat kota. Adapun bekas pengungsiannya hingga kini dilestarikan menjadi situs/cagar budaya oleh pemerintah desa Malasari.
“Rumah tersebut sudah pernah direnovasi. Bagian dinding dari bilik bambu yang sudah rapuh diganti dengan papan kayu. Bagian depan yag asalnya terbuka, sekarang memakai kaca,” papar Lurah Sepuh saat diwawancarai di dalam rumah bersejarah. Ia menambahkan bahwa rumah tersebut dipakai sebagai pusat roda pemerintahan desa sejak dulu dan pasca kepemimpinannya sengaja dikosongkan karena telah diakui sebagai salah satu aset budaya Kabupaten Bogor, dan sempat dikunjungi oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan dan Wakilnya, Dede Yusup pada tahun 2008 dan mereka sempat menginap di rumah sejarah tersebut.
???????????????????????????????Wawancara berlangsung sekitar satu jam lebih. Lurah Sepuh memaparkan secara rinci peristiwa sejarah yang terjadi di Desa Malasari, sejarah pemerintahan desa dan perkembangan masyarakat desa Malasari dari dulu sampai sekarang. Sebagai bahan pelengkap pendataan, Lurah Sepuh mengajak pewawancara untuk melihat dan mengamati rumah sejarah dari dekat dan mengambil foto-foto yang diperlukan. Setelah mendapatkan data dan informasi yang cukup akhirnya penyuluh budaya tersebut berpamitan meninggalkan Desa Malasari.

About desa malasari

Check Also

musrenbangdesmal-002

Pemdes Malasari Gelar Musrenbang untuk Tahun Anggaran 2017

[Malasari-malasari.desa.id] Sesuai amanat Undang-undang No.6 Tahun 2014 tentang Desa serta peraturan dan regulasi dibawahnya, Pemerintah …

3 comments

  1. Tulisan yg keren, karena ini saya baru tahu sejarah Malasari, ini sangat penting untuk terus disebarkan supaya tidak Pareumeun Obor terutama bagi generasi muda. Bravo Desa Malasari

  2. sejarah ditulis sehingga bisa diketahui generasi penerus.
    tulisan yang mantap!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *